Penanganan Masalah Anak Melalui Learning Centre

Alhamdulillah tulisan saya dimuat di Malang Post hari Kamis 26 Maret 2015.
Semoga menyusul tulisan-tulisan yang lain. Aamiin
#MalangPost
#ilovewriting
#learningcentre
#opini
#FLP

pentingnya learning center-fauziah

Panjang naskah untuk Malang Post minimal 850 kata, sekitar 5-6 halaman. Berikut naskah asli saya Continue reading

Advertisements

Berburu Harta Karun: Diam-Diam Mereka Mengerjai Saya 

ImageSalah satu tema pelajaran bahasa Indonesia kelas tiga adalah alat transportasi. Kompetensi yang harus dipelajari diantaranya rambu-rambu lalu lintas.

Agar pelajaran menarik, sebelum masuk bab ini saya memberi tugas anak-anak untuk membuat rambu lalu lintas dari karton. Bagaimana bentuknya tergantung kreasi mereka.

Di hari H, saya membagi kelas menjadi dua kelompok melalui undian dari kertas. Kelompok A dan B. Setelah membagi kelompok, kami berbagi daerah kekuasaan.

Kelompok A berada di utara sungai sedang kelompok B di selatan sungai. Tugas masing-masing kelompok adalah menyembunyikan harta karun yang sudah saya siapkan dan membuat petunjuk arah dari rambu-rambu lalu lintas. Lha harta karun ini harus ditemukan oleh kelompok lawan.

Yang paling sulit ditemukan dan memasang rambu-rambunya tepat adalah pemenang. Pemenang akan mendapat harta karun tersebut.

So, masing-masing kelompok berusaha menyembunyikan harta katun agar tidak bias ditemukan. Ada banyak trik yang mereka buat. Mereka membuat jalur melingkar dan berkelok-kelok yang dapat membuat lawan kesulitan, ada juga yang menyimpan harta karun di tempat yang tak terduga, atau membuat kesan kalau itu bukan tempat persembunyian si harta karun.

Berbicara harta karun, sebenarnya apa sih isi harta karun ini? Sebenarnya isinya sederhana, saya membelikan kue sejumlah anak dan membungkusnya di koran.

“Masing-masing kelompok siap?” tanya saya di lapangan atas.

“Siap!” jawab mereka serempak.

“Butuh waktu berapa menit untuk menemukan harta karun lawan?” tantang saya.

“Sepuluh menit,”

“Lima belas menit,”

“Pas nya berapa?” canda saya.

“Tiga puluh menit,” mereka menawar.

“Hadeuh, kok makin lama?” tanya saya. Continue reading

Bahagia Menurut Muridku

“Hari ini saya belajar banyak hal dari si Cerdik, saya pikir karya si Pintar punya si Cerdik karena hari Selasa saya siapin botol, tusuk sate, malam, lakban, kresek dll. Malah dia tidak membawa kertas emas. Ada rasa kecewa.”

Kubaca SMS salah satu wali murid dengan hati sesak. Jariku menekan beberapa tuts huruf di Hape, mengatur kalimat jawaban. Namun…

“Bu Fauziah, rapat,” teriakan satu guru membuat kalimatku terputus. Aku berjalan menuju ruang kepala sekolah untuk rapat rutin mingguan.

“Begitu tahu karya si Cerdik tidak lebih bagus dari si Pintar, tapi mungkin ada imajinasi lain di kapal si Cerdik yang tidak kita tahu, yang buat saya trenyuh,”

Perasaanku ndak karuan, ingin kubalas SMS tersebut dan menjelaskan runtutan kejadian, satu pengalaman yang membuatku bangga dengan si Cerdik. Akhlak mulia yang kutemukan pada dirinya beberapa bulan ini. Namun, kondisi rapat membuatku mengurungkan niat tersebut.

*** Continue reading

STRATEGI PEMBELAJARAN PENDIDIKAN SEKS REMAJA AUTIS DI TINGKAT SEKOLAH DASAR

(Alhamdulillah Juara II KKTM Pendidikan Wilayah C –Jawa Timur, Madura, NTT, dan NTB, 2008)

Fauziah Rachmawati, Syilviantia Najma, Tutik Sri Wahyuni

Universitas Negeri Malang

     

 

RINGKASAN

Remaja autis adalah bagian dari masyarakat yang mempunyai kekhasan sendiri. Fenomena autis terjadi pada individu akibat gangguan pada kondisi saraf biologis (Neuro – Biological Disorder). Penelitian menunjukkan jumlah penderita autisme meningkat dari tahun ke tahun. Kajian tentang autis sebagaimana kajian individu yang lain tidak dapat dilepaskan dari komponen-komponen hidup manusia sebagai individu. Salah satu komponen yang dimaksud antara lain perhatian individu terhadap seks. Penelitian menunjukkan bahwa pada individu dengan berkebutuhan khusus (Special Needs Individuals), dalam hal ini autis, juga terjadi perkembangan yang kurang lebih sama dengan individu normal lainnya khususnya pada perkembangan pubertasnya. Banyak contoh di mana remaja autis yang belum mengerti hal-hal yang berkaitan dengan seks. Misalnya saja seorang perempuan di SD Autis, pernah suatu kali saat haid, dia membawa pembalut dan berlari-lari. Peristiwa ini tentunya kurang pantas bagi kebanyakan remaja pada umumnya. Berdasarkan deskripsi tentang perkembangan seksual remaja autis maka, dapat disimpulkan bahwa perilaku seksual individu autis sebenarnya tidak terganggu, tetapi ekspresi mereka yang mencerminkan ketidak-matangan perkembangan sosial dan emosional mereka. Secara umum masyarakat beranggapan bahwa sosialisasi tentang pendidikan seks masih menjadi hal yang tabu dan tertutup di dalam tatanan masyarakat Indonesia. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, maka perlu adanya pendidikan seks bagi remaja autis dengan strategi pembelajaran yang tepat mengingat penanganan anak autis memang cukup berat. Strategi pembelajaran pendidikan seks untuk remaja autis diperlukan karena pada pendidikan seks tingkat sekolah dasar dapat menjadi basis penting bagi pola seks mereka di masa mendatang.

Adapun rumusan masalah karya tulis ini adalah: Bagaimana strategi pembelajaran pendidikan seks untuk anak autis di tingkat sekolah dasar pada level basic, level intermediate, dan level transisi/advance? Tujuan yang ingin dicapai dalam penulisan karya tulis ini adalah untuk mengembangkan strategi pembelajaran pendidikan seks untuk anak autis di tingkat sekolah dasar pada level basic, level intermediate, dan level transisi/advance. Karya tulis ini diharapkan dapat memberikan manfaat  bagi bagi orang tua anak autis, pendidik di sekolah, masyarakat, maupun bagi pemerintah sehingga mendapat pengetahuan kepada tentang strategi pembelajaran pendidikan seks pada tingkat sekolah dasar serta meningkatkan kesadaran dan kepedulian terhadap pendidikan seks untuk remaja autis.

Beberapa pokok  yang perlu ditelaah antara lain mengenai pengertian remaja autis, beberapa faktor yang menyebabkan seseorang dapat mengalami keautisan di antaranya yaitu faktor biologis seperti faktor genetik, gangguan pada fungsi otak (Neuro – Biological Disorder) yaitu pada lobus temporal tepatnya di gyrus temporalis superior, sistem limbik, amygdala, hippocampus, dan serebelum. Sedangkan faktor psikologis yang dapat menyebabkan seorang remaja yang memiliki potensi keautisan menjadi autis adalah media elektronik visual karena interaksi antara remaja dan orang tua semakin berkurang. Beberapa karakteristik penyandang autis adalah mengalami perkembangan komunikasi yang lambat, masalah pada interaksi sosial, gangguan sensoris, pola bermain yang berbeda dengan individu normal, dan perilaku hipoaktif maupun hiperaktif, serta perkembangan emosi yang lambat.

Pada remaja autis juga terjadi perkembangan seksualitas yang kurang lebih sama dengan individu yang tidak mengalami gangguan perkembangan. Mereka mengalami perubahan emosional, fisik dan sosial yang hampir sama. Strategi pendidikan seks remaja autis tingkat SD merupakan komponen yang perlu diperhatikan dalam penggunaan strategi penyampaian, yaitu media pembelajaran, interaksi peserta didik dengan media, dan bentuk (struktur) belajar mengajar. Pendidikan seks untuk anak autis harus mencakup level komunikasi, kemampuan sosial, kemampuan kognitif, kemampuan konseptual, dan aspek-aspek lain dari fungsi personal.

Strategi pembelajaran pendidikan seks bagi anak autis merupakan suatu metode dalam interaksi edukatif antara peserta didik dan pendidik dalam mengembangkan kemampuannya secara optimal berkenaan dengan seksualitas yang merupakan integrasi dari perasaan, kebutuhan dan hasrat yang membentuk kepribadian unik seseorang, dan mengungkapkan kecenderungan seseorang untuk menjadi pria atau wanita.

Strategi pembelajaran pendidikan seks pada anak autis ini, haruslah menggunakan metode yang tepat sehingga anak benar-benar memahami yang harus dilakukan. Strategi yang diberikan juga bertingkat sesuai level perkembangan remaja autis yang dibagi dalam tiga level, yaitu basic, intermediate, dan transisi atau advance.  Dikarenakan perkembangan anak autis mengalami beberapa gangguan, maka pendidikan seks secara umum meliputi: Sistem reproduksi manusia, hubungan pria dan wanita, termasuk etika dalam bergaul, nilai-nilai moral dan agama, peran gender, pilihan gender, aktivitas seks, termasuk yang non hubungan seks, kontrasepsi, penyakit yang ditularkan oleh hubungan seks, kehamilan dan hal-hal yang terkait (aborsi, adopsi, merawat bayi atau anak, pola asuh, dan lain-lain), menolak ajakan hubungan seks bebas, dan masalah kelainan seks. Sedangkan metode pembelajaran yang dapat digunakan antara lain metode demonstrasi dan sosiodrama atau role playing. Media untuk pembelajaran pendidikan seks  remaja autis di sekolah juga banyak ragamnya, antara lain, kartu bergambar, benda konkret, foto keluarga, binatang kartu telpon, VCD, guru, tape recorder, televisi dapat dipilih yang relevan dengan kondisi anak dan lingkungan alam sekitarnya.

Sebagai contoh, penanganan untuk remaja autis umur 10-14 tahun dilakukan secara one-on-one atau sifatnya individual. Aktivitas yang dilakukan untuk remaja autis level basic adalah melakukan kontak mata selama beberapa detik, disertai dengan kepatuhan anak, menunjuk bagian tubuh, menggunakan benda konkret (misal: baju) dan anggota badan dalam pembelajaran, menggunakan kartu gambar dalam pembelajaran. Karena kemampuan bicara remaja autis yang terbatas maka pendidik perlu menyediakan kartu, gambar atau menggunakan isyarat dalam memberikan bimbingan dengan jari tangan.

Penanganan dilakukan secara one-on-one atau sifatnya individual dan dalam kelompok kecil untuk remaja autis level intermediate. Aktivitas yang dilakukan adalah melabelkan objek berdasarkan fungsinya, menggunakan benda konkret (misal: baju) dan anggota badan dalam pembelajaran, menggunakan kartu gambar dalam pembelajaran. Sedangkan untuk remaja autis pada level transisi atau advance, penanganannya dilakukan dalam kelompok besar. Aktivitas yang dilakukan, adalah anak diminta untuk menjawab pertanyaan dengan penggunaan kata “mengapa”, anak diajari untuk mengantri dalam menunggu giliran, dan anak diminta untuk bercerita tentang sesuatu, serta menggunakan benda konkret (misal: baju) dan anggota badan dalam pembelajaran dan menggunakan kartu gambar dalam pembelajaran

Mengingat pentingnya pendidik seksual bagi anak autis ini maka perlu kiranya orang tua, pendidik, masyarakat, dan pemerintah perlu ikut bekerjasama dalam penanganannya sehingga setelah dewasa anak dapat berinteraksi dengan masyarakat di sekitar lingkungannya serta agar memiliki kesadaran dan menghargai diri sendiri dipandang secara seksualitas serta memahami makna norma masyarakat mengenai prilaku seksual yang pantas di lingkungannya serta berkembang menjadi pribadi yang utuh.

Direkomendasikan kepada orang tua antara lain untuk mengamati pola perubahan dan perkembangan fisik maupun emosional anak autis sejak dini, terutama ketika anak memasuki usia pubertas. Hal yang dapat dilakukan guru adalah menanamkan norma-norma susila yang berlaku di lingkungan mereka. Masyarakat sebagai wadah lingkungan anak autis untuk berkembang secara sosial hendaknya lebih peduli ketika remaja autis sedang ada masalah, dan ikut menjaga, dalam arti siap bila diperlukan dalam memberikan bantuan. Sedangkan pemerintah perlu memberikan kebijakan yang bersifat pemberian layanan dan fasilitas serta memberikan payung hukum atau legislasi yang jelas terkait pendidikan seks dan juga perlindungan terhadap tindak kriminal seksual terhadap remaja autis.

HUBUNGAN PENGETAHUAN TEORITIS DAN INTERVENSI PENDIDIKAN SEKS BAGI PENYANDANG AUTIS

(Alhamdulillah Juara I tingkat Fakultas, 2008)

Fauziah Rachmawati, Imron Rosadi, M. Abdul Gafur R

Jurusan KSDP dan Jurusan Kimia, Universitas Negeri Malang, Malang

A. Latar Belakang

Sebagai masyarakat timur seringkali terasa sungkan membicarakan masalah seksualitas. Bahkan kebanyakan orang tua tak bisa menghadapi setiap permasalahan yang timbul berkenaan dengan masalah seksual pada anaknya ketika anak sudah mulai memasuki masa pubertas dan menginjak dewasa, terlebih lagi pada individu autis yang pada dasarnya memang lebih membutuhkan perhatian dan penanganan khusus dari pada anak normal biasa.

Autis adalah gangguan perkembangan yang diakibatkan oleh gangguan pada kondisi saraf biologis ( Neuro-Biological Disorder) sehingga menyebabkan ganguan kompleks menyangkut komunikasi, interaksi sosial, ganguan sensoris, pola bermain, perilaku dan emosi (Sarasvati, 2004, 135)

Penelitian menunjukkan bahwa pada individu dengan berkebutuhan khusus ( Special Needs Individuals) dalam hal ini autis juga terjadi perkembangan yang kurang lebih sama dengan individu normal lainnya. Mereka juga mengalami perubahan fisik, emosional , dan sosial yang hampir sama. Perubahan fisik mereka antara lain : mulai terjadi perubahan pertumbuhan rambut di seluruh tubuh seperti rambut diwajah, ketiak dan di daerah sekitar kemaluan, selain itu terjadi perubahan suara pada pria dan menstruasi pada wanita. Oleh karena itu sudah seharusnya penderita autis mulai dikenalkan pada pendidikan seksual sebagai persiapan ketika mulai terjadi perubahan fisik, psikis, dan emosi saat memasuki usia masa pubertas dan meninjak dewasa. Dalam makalah ini, seksualitas dibatasi sebagai pikiran, perasaan, sikap dan perilaku sesorang terhadap dirinya sendiri (schwier dan Higaburger.200). Dengan demikian, bukan kegiatan hubungan seks yang akan dibahas melainkan bagaimana membantu anak autis agar memiliki kesadaran dan menghargai diri sendiri dipandang secara seksualitas serta memahami makna norma masyarakat mengenai perilaku seksual yang pantas di lingkungannya sehingga ia berkembang menjadi pribadi utuh dan mandiri

B. Rumusan masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan sebelumnya, maka topik yang akan dibahas dalam karya tulis ini adalah sebagai berikut :

  1. Bagaimana pola intervensi orang tua dan pendidik dalam menghadapi perkembangan fisik dan psikis anak autis berkenaan denga fungsi organ seks ?
  2. Bagaimanakah bentuk pendidikan seks bagi anak autis ? Continue reading