PARA JUARA LOMBA PENDIDIKAN AGAMA ISLAM GUGUS 8 SD ISLAM AS-SALAM MALANG

juara sayembara

SELAMAT KEPADA

PARA JUARA LOMBA PENDIDIKAN AGAMA ISLAM GUGUS 8

Nama Lomba Prestasi
M. Hasan Fadhillah

Hulwah Aisya

Aisyah Nuriy Arina

Cerdas Cermat Juara 1
Yasmin Zia Abidin Pildacil Juara 2
Muhammad Ukasyah Adzan Juara 1
M.Rauf Al Kayyis Tartil Pa Juara 1
Ken Azizah Hurun’in Tartil Pi Juara 1
Rugo’yah  Tartil Pi Juara 2
Abdul Aziz Tahfidz Pa Juara 1
Muhammad Zaid A. Tahfidz Pa Juara 2
Hilya Aulia Safina Tahfidz Pi Juara 1
Adzra Nabila Nur Aufa Tahfidz Pi Juara 2
Zahidaturofi’ah Amatullah Tahfidz Pi Juara 3
Aisyah Fadilah Nur Diniah MTQ Juara 1
Fathiya Najwa Syarif MTQ Juara 2
Muhammad Zahi Dicky S.

Faiq Nasrullah Ahmad

Kevin Satria Nugraha

Mohammad Harits

Sholat Jamaah Juara 3
Aisyah Sabrina

Fathimah Azzahra

Najwa Mohammad

Sausan Keumala Rasyidah

Zhalwa Alya Monica

Ratu Myari Fauzia

Nazilla Qorirol

Naura Zulfa Sabrina

Naila Syawlani Arifa

Fikri Abdullah

Muhammad Hanan

Daffa Taqiyuddin Salmaniza

Muhammad Alif Azfa H.

Tsaqif Jalaludin

Ahmad Haidar

Ahmad Muhajir Abdun

Muhammad Abu Bakar

Rafif Zaidane

Ubay Abdullah Rasikh

Asmaul Husna Juara 2

Alhamdulillah Dimuat di Jawa Pos, 3 Juni 2014

IMG-20140603-WA0002

Beberapa kali saya mendengar beberapa lagu tidak sopan di TV, pasar, atau
di jalan. Misalnya “Nganti kapan dadi bojo simpenan?” (sampai kapan
jadi istri simpanan?), “Wedi karo bojomu” (Takut dengan suamimu), dan
berbagai teks lagu lain yang lebih vulgar.

Mendengarnya saja saya risih dan malu. Sama sekali tidak ada nilai
positifnya. Belum lagi terkadang ada anak-anak yang dengar dan
bertanya maksud lagu itu apa? Selain itu kata-kata adalah doa, apa
jadinya kalau apa yang dikatakan di lagu tersebut menjadi kenyataan.

Besar harapan saya agar para pencipta lagu mulai selektif dalam
menggubah lagu ciptaannya. Masyarakat pun hendaknya bias memilih mana
lagu yang positif, memotivasi, dan yang mempunyai nilai. Yang tak
kalah penting, harus ada sanksi terhadap para pencipta lagu seronok
tersebut. (Fauziah, Guru SD Islam As-Salam)

Pendidikan Seks untuk Anak Autis

9786020030074

Penulis: Fauziah Rachmawati Penerbit: Elex Media Komputindo

Genre: Teknologi dan Ilmu Terapan

Judul: Pendidikan Seks untuk Anak Autis

Penulis: Fauziah Rachmawati

Penerbit: PT Elex Media Komputindo

ISBN: 978-602-00-3007-4

Tebal: 137 hal

Dimensi: 14 x 21cm

Tahun terbit: 2012

Cetakan: ke I

DDC: 649.6

Ada begitu banyak orang yang belum mengetahui secara jelas bagaimana sebenarnya anak autis itu. Biasanya dikarenakan mereka cenderung enggan mencari tahu atau memang disebabkan belum meratanya informasi seputar autisme. Parahnya, sebagian kecil dari mereka memandang sebelah mata terhadap anak autis maupun orang tuanya karena pada umumnya pola tingkah anak autis memang ‘berbeda’ dari anak normal.

Autis adalah gangguan perkembangan yang kompleks menyangkut komunikasi, interaksi sosial, dan aktivitas imajinasi. Istilah autis ini pertama kali diperkenalkan tahun 1943 oleh Leo Kramer, seorang psikiater dari Harvard, yang telah melakukan pengamatan dan penelitian terhadap 11 penyandang kala itu. Itulah mengapa autis juga dikenal dengan istilah Syndrom Kramer. Komunikasi yang dimaksud adalah komunikasi secara utuh, baik verbal maupun nonverbal, sebab anak autis tidak mampu berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat, bahasa tubuh, melakukan kontak mata, bahkan membaca ekspresi wajah sekalipun. Inilah yang menyulitkannya beradaptasi di dalam kelompok masyarakat.

“Ketika itu ia mendapati gejala kesulitan berhubungan dengan orang lain, mengisolasi diri, perilaku yang tidak biasa dan cara berkomunikasi yang aneh, terlihat acuh terhadap lingkungan dan cenderung menyendiri. Seakan ia hidup dalam dunia yang berbeda.” (halaman 3)

Continue reading

MENGUAK RAHASIA KEISTIMEWAAN JAHE SEBAGAI MINUMAN PENGHUNI SURGA (Alhamdulillah Juara I MKTQ Bidang IPTEK Tingkat Universitas Negeri Malang, 2009)

MENGUAK RAHASIA KEISTIMEWAAN JAHE SEBAGAI MINUMAN PENGHUNI SURGA

(PEMBAHASAN QS. AL-INSAN 17-18)

Gusti Aisyah Putri dan Fauziah Rachmawati

 

  1. A.    Latar Belakang

Di dalam surga itu mereka diberi minum segelas (minuman) yang campurannya adalah jahe (QS Al-Insan [76]: 17-18), apa keistimewaan jahe sehingga dipilih sebagai campuran minuman untuk penghuni surga? Tidakkah ada minuman yang lebih pantas sebagai minuman surga.

Al-Qur’an, kitab suci umat Islam, merupakan mukjizat Nabi Muhammad yang paling besar. Kitab ini tidak hanya berisi tuntunan ibadah dan hukum-hukum agama atau fikih semata, melainkan juga ekonomi, kesehatan, bahkan IPTEK.

Dalam salah satu video ”Ultimate Debate” mempertanyakan keilmiahan Al-Qur’an atau Bible, pihak ilmuwan Islam menyatakan bahwa Al-Qur’an adalah kitab suci yang berisikan SIGN (pertanda) bukan SCIENCE (ilmiah). Kedua kata tersebut memiliki pelafalan yang nyaris sama, dengan hanya sedikit perbedaan. Artinya adalah, Al-Quran bukanlah kitab yang berisi teks-teks ilmiah yang disajikan per-bab dan mengikuti metode penulisan ilmiah. Keilmiahan Al-Qur’an disajikan secara tersirat dalam beberapa ayat kauniyahnya dan umat Islamlah yang harus mencari apa maksud dari pertanda-pertanda tersebut.

Continue reading

Penggunaan Metaphor untuk Memulai Pelajaran (Alhamdulillah dimuat di Koran Pendidikan, 22 September 2011)

Ketika kelas dimulai, tentunya kondisi masing-masing siswa beragam. Ada yang sudah merasa siap belajar, sebagian yang lain merasa jenuh, dan sejumlah besar lainnya akan berperan menjadi penonton yang menunggu melihat ‘acting’ guru.

Rasanya mustahil, jika seorang guru di sekolah menganggap bahwa saat kelas akan dimulai, maka setiap murid sudah seharusnya siap menerima pelajaran. Ini adalah tugas guru.

Kondisi murid saat memulai kegiatan dan proses belajar sangat memengaruhi kemauan dan kemampuannya dalam mempelajari sesuatu. Dalam kondisi pikiran yang buruk, mereka akan sulit menyerap informasi ataupun pelajaran, bahkan pelajaran itupun akan berasosiasi dengan hal yang buruk.

Continue reading

STRATEGI PEMBELAJARAN PENDIDIKAN SEKS REMAJA AUTIS DI TINGKAT SEKOLAH DASAR

(Alhamdulillah Juara II KKTM Pendidikan Wilayah C –Jawa Timur, Madura, NTT, dan NTB, 2008)

Fauziah Rachmawati, Syilviantia Najma, Tutik Sri Wahyuni

Universitas Negeri Malang

     

 

RINGKASAN

Remaja autis adalah bagian dari masyarakat yang mempunyai kekhasan sendiri. Fenomena autis terjadi pada individu akibat gangguan pada kondisi saraf biologis (Neuro – Biological Disorder). Penelitian menunjukkan jumlah penderita autisme meningkat dari tahun ke tahun. Kajian tentang autis sebagaimana kajian individu yang lain tidak dapat dilepaskan dari komponen-komponen hidup manusia sebagai individu. Salah satu komponen yang dimaksud antara lain perhatian individu terhadap seks. Penelitian menunjukkan bahwa pada individu dengan berkebutuhan khusus (Special Needs Individuals), dalam hal ini autis, juga terjadi perkembangan yang kurang lebih sama dengan individu normal lainnya khususnya pada perkembangan pubertasnya. Banyak contoh di mana remaja autis yang belum mengerti hal-hal yang berkaitan dengan seks. Misalnya saja seorang perempuan di SD Autis, pernah suatu kali saat haid, dia membawa pembalut dan berlari-lari. Peristiwa ini tentunya kurang pantas bagi kebanyakan remaja pada umumnya. Berdasarkan deskripsi tentang perkembangan seksual remaja autis maka, dapat disimpulkan bahwa perilaku seksual individu autis sebenarnya tidak terganggu, tetapi ekspresi mereka yang mencerminkan ketidak-matangan perkembangan sosial dan emosional mereka. Secara umum masyarakat beranggapan bahwa sosialisasi tentang pendidikan seks masih menjadi hal yang tabu dan tertutup di dalam tatanan masyarakat Indonesia. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, maka perlu adanya pendidikan seks bagi remaja autis dengan strategi pembelajaran yang tepat mengingat penanganan anak autis memang cukup berat. Strategi pembelajaran pendidikan seks untuk remaja autis diperlukan karena pada pendidikan seks tingkat sekolah dasar dapat menjadi basis penting bagi pola seks mereka di masa mendatang.

Adapun rumusan masalah karya tulis ini adalah: Bagaimana strategi pembelajaran pendidikan seks untuk anak autis di tingkat sekolah dasar pada level basic, level intermediate, dan level transisi/advance? Tujuan yang ingin dicapai dalam penulisan karya tulis ini adalah untuk mengembangkan strategi pembelajaran pendidikan seks untuk anak autis di tingkat sekolah dasar pada level basic, level intermediate, dan level transisi/advance. Karya tulis ini diharapkan dapat memberikan manfaat  bagi bagi orang tua anak autis, pendidik di sekolah, masyarakat, maupun bagi pemerintah sehingga mendapat pengetahuan kepada tentang strategi pembelajaran pendidikan seks pada tingkat sekolah dasar serta meningkatkan kesadaran dan kepedulian terhadap pendidikan seks untuk remaja autis.

Beberapa pokok  yang perlu ditelaah antara lain mengenai pengertian remaja autis, beberapa faktor yang menyebabkan seseorang dapat mengalami keautisan di antaranya yaitu faktor biologis seperti faktor genetik, gangguan pada fungsi otak (Neuro – Biological Disorder) yaitu pada lobus temporal tepatnya di gyrus temporalis superior, sistem limbik, amygdala, hippocampus, dan serebelum. Sedangkan faktor psikologis yang dapat menyebabkan seorang remaja yang memiliki potensi keautisan menjadi autis adalah media elektronik visual karena interaksi antara remaja dan orang tua semakin berkurang. Beberapa karakteristik penyandang autis adalah mengalami perkembangan komunikasi yang lambat, masalah pada interaksi sosial, gangguan sensoris, pola bermain yang berbeda dengan individu normal, dan perilaku hipoaktif maupun hiperaktif, serta perkembangan emosi yang lambat.

Pada remaja autis juga terjadi perkembangan seksualitas yang kurang lebih sama dengan individu yang tidak mengalami gangguan perkembangan. Mereka mengalami perubahan emosional, fisik dan sosial yang hampir sama. Strategi pendidikan seks remaja autis tingkat SD merupakan komponen yang perlu diperhatikan dalam penggunaan strategi penyampaian, yaitu media pembelajaran, interaksi peserta didik dengan media, dan bentuk (struktur) belajar mengajar. Pendidikan seks untuk anak autis harus mencakup level komunikasi, kemampuan sosial, kemampuan kognitif, kemampuan konseptual, dan aspek-aspek lain dari fungsi personal.

Strategi pembelajaran pendidikan seks bagi anak autis merupakan suatu metode dalam interaksi edukatif antara peserta didik dan pendidik dalam mengembangkan kemampuannya secara optimal berkenaan dengan seksualitas yang merupakan integrasi dari perasaan, kebutuhan dan hasrat yang membentuk kepribadian unik seseorang, dan mengungkapkan kecenderungan seseorang untuk menjadi pria atau wanita.

Strategi pembelajaran pendidikan seks pada anak autis ini, haruslah menggunakan metode yang tepat sehingga anak benar-benar memahami yang harus dilakukan. Strategi yang diberikan juga bertingkat sesuai level perkembangan remaja autis yang dibagi dalam tiga level, yaitu basic, intermediate, dan transisi atau advance.  Dikarenakan perkembangan anak autis mengalami beberapa gangguan, maka pendidikan seks secara umum meliputi: Sistem reproduksi manusia, hubungan pria dan wanita, termasuk etika dalam bergaul, nilai-nilai moral dan agama, peran gender, pilihan gender, aktivitas seks, termasuk yang non hubungan seks, kontrasepsi, penyakit yang ditularkan oleh hubungan seks, kehamilan dan hal-hal yang terkait (aborsi, adopsi, merawat bayi atau anak, pola asuh, dan lain-lain), menolak ajakan hubungan seks bebas, dan masalah kelainan seks. Sedangkan metode pembelajaran yang dapat digunakan antara lain metode demonstrasi dan sosiodrama atau role playing. Media untuk pembelajaran pendidikan seks  remaja autis di sekolah juga banyak ragamnya, antara lain, kartu bergambar, benda konkret, foto keluarga, binatang kartu telpon, VCD, guru, tape recorder, televisi dapat dipilih yang relevan dengan kondisi anak dan lingkungan alam sekitarnya.

Sebagai contoh, penanganan untuk remaja autis umur 10-14 tahun dilakukan secara one-on-one atau sifatnya individual. Aktivitas yang dilakukan untuk remaja autis level basic adalah melakukan kontak mata selama beberapa detik, disertai dengan kepatuhan anak, menunjuk bagian tubuh, menggunakan benda konkret (misal: baju) dan anggota badan dalam pembelajaran, menggunakan kartu gambar dalam pembelajaran. Karena kemampuan bicara remaja autis yang terbatas maka pendidik perlu menyediakan kartu, gambar atau menggunakan isyarat dalam memberikan bimbingan dengan jari tangan.

Penanganan dilakukan secara one-on-one atau sifatnya individual dan dalam kelompok kecil untuk remaja autis level intermediate. Aktivitas yang dilakukan adalah melabelkan objek berdasarkan fungsinya, menggunakan benda konkret (misal: baju) dan anggota badan dalam pembelajaran, menggunakan kartu gambar dalam pembelajaran. Sedangkan untuk remaja autis pada level transisi atau advance, penanganannya dilakukan dalam kelompok besar. Aktivitas yang dilakukan, adalah anak diminta untuk menjawab pertanyaan dengan penggunaan kata “mengapa”, anak diajari untuk mengantri dalam menunggu giliran, dan anak diminta untuk bercerita tentang sesuatu, serta menggunakan benda konkret (misal: baju) dan anggota badan dalam pembelajaran dan menggunakan kartu gambar dalam pembelajaran

Mengingat pentingnya pendidik seksual bagi anak autis ini maka perlu kiranya orang tua, pendidik, masyarakat, dan pemerintah perlu ikut bekerjasama dalam penanganannya sehingga setelah dewasa anak dapat berinteraksi dengan masyarakat di sekitar lingkungannya serta agar memiliki kesadaran dan menghargai diri sendiri dipandang secara seksualitas serta memahami makna norma masyarakat mengenai prilaku seksual yang pantas di lingkungannya serta berkembang menjadi pribadi yang utuh.

Direkomendasikan kepada orang tua antara lain untuk mengamati pola perubahan dan perkembangan fisik maupun emosional anak autis sejak dini, terutama ketika anak memasuki usia pubertas. Hal yang dapat dilakukan guru adalah menanamkan norma-norma susila yang berlaku di lingkungan mereka. Masyarakat sebagai wadah lingkungan anak autis untuk berkembang secara sosial hendaknya lebih peduli ketika remaja autis sedang ada masalah, dan ikut menjaga, dalam arti siap bila diperlukan dalam memberikan bantuan. Sedangkan pemerintah perlu memberikan kebijakan yang bersifat pemberian layanan dan fasilitas serta memberikan payung hukum atau legislasi yang jelas terkait pendidikan seks dan juga perlindungan terhadap tindak kriminal seksual terhadap remaja autis.