MENGUAK RAHASIA KEISTIMEWAAN JAHE SEBAGAI MINUMAN PENGHUNI SURGA (Alhamdulillah Juara I MKTQ Bidang IPTEK Tingkat Universitas Negeri Malang, 2009)

MENGUAK RAHASIA KEISTIMEWAAN JAHE SEBAGAI MINUMAN PENGHUNI SURGA

(PEMBAHASAN QS. AL-INSAN 17-18)

Gusti Aisyah Putri dan Fauziah Rachmawati

 

  1. A.    Latar Belakang

Di dalam surga itu mereka diberi minum segelas (minuman) yang campurannya adalah jahe (QS Al-Insan [76]: 17-18), apa keistimewaan jahe sehingga dipilih sebagai campuran minuman untuk penghuni surga? Tidakkah ada minuman yang lebih pantas sebagai minuman surga.

Al-Qur’an, kitab suci umat Islam, merupakan mukjizat Nabi Muhammad yang paling besar. Kitab ini tidak hanya berisi tuntunan ibadah dan hukum-hukum agama atau fikih semata, melainkan juga ekonomi, kesehatan, bahkan IPTEK.

Dalam salah satu video ”Ultimate Debate” mempertanyakan keilmiahan Al-Qur’an atau Bible, pihak ilmuwan Islam menyatakan bahwa Al-Qur’an adalah kitab suci yang berisikan SIGN (pertanda) bukan SCIENCE (ilmiah). Kedua kata tersebut memiliki pelafalan yang nyaris sama, dengan hanya sedikit perbedaan. Artinya adalah, Al-Quran bukanlah kitab yang berisi teks-teks ilmiah yang disajikan per-bab dan mengikuti metode penulisan ilmiah. Keilmiahan Al-Qur’an disajikan secara tersirat dalam beberapa ayat kauniyahnya dan umat Islamlah yang harus mencari apa maksud dari pertanda-pertanda tersebut.

Secara empirik akal sangat powerful. Al-Qur’an sendiri tidak kurang dari 43 kali menggunakan kata akal dalam bentuk verbal seperti afala ta’qilun, apakah engkau tak berpikir. Sepuluh ayat lainnya menggunakan kata verbal pikir seperti la’allakum tafakkaruun, agar engkau memikirkannya. Teguran agar manusia menggunakan akalnya seoptimum mungkin. (Purwanto D.Sc. 2009:24)

Begitu banyak ayat-ayat kauniyah dan juga motivasi dari Al-Qur’an bagi umat Islam untuk meneliti kebenaran di balik berbagai fenomena semesta. Tak heran bila dulu ketika umat Islam masih berjaya pada masa Dinasti Abbasiyah abad ke-8 sampai ke-15, masa keemasan tersebut ditandai oleh berkembangnya tradisi intelektual dan kuatnya spirit pencarian serta pengembangan ikmu pengetahuan yang diawali translasi massif atas karya-karya tulis para filsuf Yunani Kuno.

Dalam rentang masa keemasan ini lahir para ilmuwan Islam  yan besar nan mahsyur seperti Ibnu Sina (kedokteran), Al-Khawarizmi (matematika), Al-Bitruji (astronomi), Ibnu Haitsam (teknik, optik), Jabir Haiyan (kimia), dan masih banyak lagi yang lainnya. Merekalah yang menjadi peletak dasar berbagai bidang ilmu pengetahuan Dari Dunia Islamlah, ilmu pengetahuan mengalami transmisi, diseminasi, dan proliferasi ke dunia Barat yang mendorong munculnya zaman pencerahan (renaissance) di Eropa. Melalui Dunia Islam, Barat mendapatkan akses untuk mendalami dan mengembangkan ilmu pengetahuan modern. (Purwanto, D.Sc. 2009:23).

Belakangan kemudian, seiring dengan semakin berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, bukti-bukti keilmiahan Al-Qur’an semakin banyak dan bermunculan. Contohnya adalah pengembangan penelitian terdapat khasiat lebah dan madu yang sesuai dengan QS An-Nahl. Juga dalam QS An-Naml yang menyatakan bahwa koloni semut dipimpin oleh namlatun (semut betina, dalam artian ratu semut). Padahal, kedua surat itu turun sekitar 1400 tahun sebelum penelitian IPTEK sudah secanggih masa kini. Karena itu demi bangkitnya kembali kejayaan umat Islam sudah saatnya umat Islam mengembangkan teknologi yang berbasis pada Al-Qur’an. Tidak seperti beberapa ilmuwan barat yang mengembangkan teknologinya dengan prinsip sekuler sehingga beberapa perkembangan teknologi justru bertentangan dengan nilai-nilai kehidupan.

Pembahasan pada karya tulis ini berdasarkan pada QS Al-Insan ayat 15-18, tapi pembahasannya lebih mengkhususkan pada ayat ke-17 sampai 18. Ayat-ayat itu berbunyi: Dan di sana mereka diberi segelas minuman yang bercampur zanjabil (jahe) (17). (Yang didatangkan dari) sebuah mata air (di surga) yang dinamakan Salsabil. Ayat-ayat ini menggambarkan tentang kenikmatan yang disediakan bagi penghuni surga. Dalam hal ini kita patut bertanya-tanya, mengapa Allah memilih jahe untuk dijadikan bahan minuman surga, dan mengapa bukan minuman lainnya seperti es degan, teh, kopi, dan sebagainya. Tentulah jahe merupakan bahan yang sangat istimewa sehingga sampai dijadikan bahan campuran bagi penghuni surga.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s