Obat Mujarab itu Bernama Maaf

Aku tersenyum melihatnya mau masuk kelas, akhirnya setelah tiga minggu penantian, tiga minggu berusaha dengan banyak cara, baca buku, dan konsultasi.

Setiap anak memiliki keunikan sendiri-sendiri, termasuk dia, ehm kita sebut dia Si Hebat. Bocah imut kelas 1 SD yang butuh banyak waktu untuk adaptasi dengan lingkungan. Pertama kami bertemu kalau tidak salah ketika tes penerimaan siswa baru. Sudah menjadi kebiasaan ketika bertemu dengan siswa baru aku selalu sok kenal, tanya keluarga, hobi, cita-cita, bahkan mencandainya. Kebanyakan dari hasil SKSD ini, mereka jadi dekat dan tak sungkan curhat denganku. Namun Si Hebat, dia sepertinya tak ingin kucandai, lebih suka diam daripada mengobrol denganku. Aku pun tak memaksa, aku bebaskan dia dengan ‘dunia’nya.

Pernah, untuk menghiburnya satu guru mengajak dia naik sepeda berkeliling kota! Ada pula yang lucu, saat itu aku sedang mendidik dan dia menangis ingin pulang. Teman guru merasa kasihan melihatku yang harus menambah volume suara ketika menerangkan, beliau menawarkan untuk mengajak Si Hebat jalan-jalan. Aku mengiyakan.

Namun ketika beliau kembali, kok Si Hebat nggak ada? Kutanyai, eh.. ternyata diantar pulang! Gloghak! Shok aku dibuatnya!

“Kok dibawa pulang sih pak?”

“Lha dia minta pulang, saya bingung Bu,” Jleb… aku nggrundel sendiri!

Next… aku mencoba mengorek apa yang ia sukai. Ternyata dia suka menggambar. Aku pun selalu menyiapkan kertas gambar dan pewarna untuk menarik perhatiannya. Alhamdulillah berhasil, meski hanya beberapa hari saja. Setelah itu, seperti semula, ia tak ingin masuk kelas, menangis, dan ingin pulang. Oh iya, dia berani masuk kelas jika ditemani sang mama. Namun orang tua pasti punya kesibuka dan ketika di sekolah Si Hebat adalah tanggung jawab kami sebagai guru.

Minggu pertama, sepertinya hasil belum memuaskan. Strategiku tak berhasil 100%!

Satu minggu KBM berjalan, kami semua guru mendekatinya dengan berbagai cara, tapi belum ada yang berhasil! Hampir setiap hari dia selalu minta pulang! Sebagai wali kelas, sungguh ini adalah tantangan tersendiri. Apalagi dari semua guru, aku yang belum menikah, alias pengalaman mengurus anaknya jauh kurang sekali dari guru lain.

Berpikir, merenung, aku memutuskan untuk ‘membiarkan’ dia bermain di depan sekolah. Semoga dengan bermain pasir daya kreatifnya keluar. Sambil bermain, jika sedang tidak mengajar aku selalu mengajaknya ngobrol, menanyainya tentang banyak hal. Ini berlangsung beberapa hari. Amanah yang membuatku sempat pusing karena memikirkan bagaimana dengan pelajarannya nanti? Dia pasti ketinggalan. Saat itu aku hanya bisa membawa namanya dalam doa, mendoakan agar dia mau dekat denganku, masuk kelas, dan belajar.

Alhamdulillah berhasil! Benar-benar dia menjadi dekat denganku. Tapi memasuki hari ketiga, aku bingung, kedekatan ini patut disyukuri atau diapakan? Setiap kali datang ke sekolah, pertama yang dicari adalah diriku, dia akan menangis kalau tidak mendapati Bu Fauziah. Trus, karena aku mendapat amanah di kelas dua juga, dia pasti ikut aku masuk kelas 2. Ah paling tidak dia mau masuk kelas dulu.

Ok, masuk kelas sudah mau, meski kadang juga lebih suka main-main hehehe. Sekarang bagaimana agar dia mau belajar? Pikiranku berkecamuk. Usaha dan doa tidak putus-putus kupanjatkan.

Tak jarang aku selalu bersembunyi agar dia tidak ‘bergantung’ dan bias dekat dengan guru lain. Hasilnya dia menangis dan memanggil namaku. Ndak tega dengarnya… hal ini berlangsung beberapa hari.

Berpikir terus berpikir, pastinya ada penyebab mengapa dia seperti ini. Aku menanyakan latar belakang Si Hebat ke mamanya. Ternyata dulu ketika hamil Si Hebat, beliau bertengkar hebat dengan suami, mengalami depresi, tekanan batin yang sangat, bahkan dibawa ke dokter syaraf dan disuntik tanpa sepengetahuannya. Merinding aku mendengar cerita perempuan single parents itu.

Mengetahui latar belakang itu, kami semua guru mencoba untuk lebih perhatian dengan Si Hebat, tidak terlalu memaksanya, mengajaknya main dengan sesekali mengaitkan permainan dengan pelajaran. Namum setelah evaluasi hal ini tidak sepenuhnya bagus! Bagaimanapun dia harus mau masuk kelas dan belajar.

Jujur aku bukan orang yang tega dengan tangis anak-anak. Dan dalam masalah ini aku harus tega. Satu hari aku melakukan percobaan, membiarkan dia menangis sambil terus mengikuti langkahku ketika menerangkan di kelas. sepuluh menit sampai tiga puluh menit kelas kami dipenuhi backsound suara tangis. Memasuki pelajaran berikutnya dia mendekatiku, aku memeluknya, dia sesenggukan duduk di tempat dudukku dan mengikuti pelajaran. Kasihan dia, sepertinya capek. Hiks.. maafkan ibu ya Nak.

Alhamdulillah dia mulai mau masuk kelas, meski belum ikut pelajaran. Aku agak lega. But… ini pun tidak berlangsung lama! Dia kembali ke aktivitas semula: bermain pasir.

MasyaAllah, keningku kembali berkerut. Jurus apalagi ya? Banyak waktu kuhabiskan untuk nonton film pendidikan: Taare Zameen Par, 3 idiots, Beatiful Mind, Dead Poets Society, Diary of a Wimpy Kid, Karate Kid, Laskar Pelangi, Alangkah Lucunya Negeri Ini, Miracle Worker, I’m Not Stupid!!, The Kings Speech, dll.

Bukan hal yang mudah tapi pasti aku bisa! Menjadi wali kelas dengan sekitar tiga anak belum lancar membaca, satu anak ADHD, ditambah si Hebat. Bismillah! Tak ada beban tanpa pundak ini yang kutanamkan, meski kadang juga aku puyeng. Hehehe…

Sampailah pada hari Jum’at 5 Agustus 2011 diri ini bertemu dengan pak Dian, bapak Pembina FLP yang berkecimpung di NLP. Kuceritakan Si Hebat ke Beliau, tidak detail hanya masalah adaptasi dan penyebabnya. Inilah yang kusuka dari NLP, tidak banyak mengorek masalah tapi focus pada solusi.

“Gampang itu Mbak,” ujar beliau.

“Mbak minta orang tuanya minta maaf ke Si Hebat,”

“Mamanya?” tanyaku.

“Ayahnya bagaimana? Mamanya tertekan karena?”

“Sepertinya suami Pak,”

“Kalau begitu ayahnya juga,”

“Hanya minta maaf?” tanyaku. Beliau mengangukan kepala.

“Ada pengalaman hampir sama, seorang ibu bertengkar hebat dengan suami ketika hamil satu bulan. Ketika bayi itu lahir dan tumbuh besar, dia juga hamper sama dengan Si Hebat. Orang tua pun minta maaf dengan si anak. Anehnya si anak ingat dengan pengalaman ketika dia masih berumur janin satu bulan!” Subhanallah, aku manggut manggut mendengar nasehat beliau.

Keesokan harinya, ketika bertemu dengan mama Si Hebat, kusampaikan hal ini, beliau menerima masukan dan berjanji akan minta maaf. Satu hal menggembirakan adalah ternyata sang ayah minggu itu mau jenguk juga.

Senin, satu hal luar biasa terjadi! Si Hebat sama sekali tidak menangis! Dia duduk manis di kelas. Alhamdulilah.. hal yang lain menggembirakan adalah dia mendapat nilai 90 dan 100 untuk mata pelajaran yang kubina!

Dari pengalam di atas, aku jadi belajar banyak hal

  1. Maaf: kata sederhana yang sarat makna…
  2. Menjaga keadaan lahir dan batin ketika hamil. Masyallah begitu besarnya pengaruh keadaan si ibu terhadap si janin. Yang terpenting bagi ibu hamil adalah ada orang yang memotivasinya, membesarkan hatinya, orang yang selalu bersamanya, membantunya. Untuk semua ini yang paling berpengaruh baginya adalah suaminya. Sebab banyak dari kasus naiknya kadar gula, tekanan darah dan yang lainnya, terjadi pada kehamilan pertama lebih banyak daripada pada kehamilan kedua, ketiga, dan seterusnya. Disamping jika ia rutin konsultasi dengan dokter, bisa menenteramkan jiwanya, membesarkan jiwanya untuk siap melakukan persalinan secara normal. Jadi ingat pengalaman Mbak Helvy ketika hamil Faiz, Bu Yoyoh Yusrohm dan Ibu yang memiliki anak penghapal Al-Qur’an. Bismillah, semoga kita –para wanita- bisa menjadi ibu terbaik bagi generasi yang akan membawa perubahan kebaikan negeri ini. Amiin…
  3. Kuatnya pengaruh doa guru terhadap murid. Terkadang kita mungkin kurang sabar jika menghadapi murid yang uaktiiifff banget. Ada guru yang marah, memukul, atau membentak. Hal ini mengingatkanku pada kisah Rosul saat ditanya pemuda “Rosulullah bolehkah aku berzina?” para sahabat geram mendengar pertanyaan orang itu. Nggak sopan banget sih? Namun apa yang dilakukan Rosul? Beliau meminta pemuda itu mendekat dan bertanya, “Apakah kamu punya ibu?” tanya Rosul, pemuda itu mengiyakan.

“Coba bayangkan kalau ibumu dizinai,” Rosul bertanya dengan lembut. Dengan lantang pemuda itu menjawab tidak.

“Apakah kamu punya saudara perempuan?” sekali pemuda itu mengiyakan. Rosul kembali bertanya, “apakah kamu rela jika saudara perempuanmu dizinai?” pemuda itu menjawab tidak.

“Tahukah kamu, bahwa bisa jadi perempuan itu mempunyai anak atau saudara laki-laki yang tidak rela jika saudara atau ibunya dizinai.” Pemuda itu akhirnya tersadar, dan setelah itu Rosulullah mendoakan pemuda ini agar terjauh dari fitnah zina. Maaf lupa detail riwayatnya…

Di sinilah kekuatan doa pada murid, doa yang berbeda bagi masing-masing murid. Banyak hal ajaib setelah kupraktekan trik ini. Beberapa anak memanggilku sama dengan sebutan ortunya di rumah, ummi, bunda, ibu, dan lain-lain. Selain itu, mereka tak sungkan untuk curhat ^_^.

  1. Ada5 kategori bahasa cinta kasih yang biasanya digunakan oleh anak-anak. Kelimanya adalah sentuhan fisik, kata-kata penegas, waktu bersama yang berkualitas, hadiah, dan pelayanan. Ini yang perlu ditekanka, ada saatnya guru dekat dengan murid, juga ada saatnya mereka harus patuh. Ketika rasa sayang itu datang dari hati, anak pasti bias merasakannya juga. Tak jarang mereka berlebihan perhatiannya.
  2. Kemampuan setiap anak berbeda, harus sabar euy…
  3. Anak: benar-benar sekolah kehidupan yang tak habisnya.

 

Mamahami dan mengenali bahasa cinta kasih yang dipergunakan oleh anak akan memudahkan kita mendidik anak-anak. Karena…..
Jika anak merasa dicintai,
Ia akan memandang dunia dengan bersahabat.

 

Senin, 8 Agustus 2011

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s